Follow Us @soratemplates

Tuesday, December 11, 2018

PUISI SETAPAK MEREBAK RENGGANG




SETAPAK MEREBAK RENGGANG
Oleh: Widya Novi Susanti



Sepekan lalu mendapati segalanya dengan bentuk yang sama

Lalu kembali pudar karena terasa menghimpit

Mau bagaimana hilirku tak bertemu mudik ?

Mulut rapat mulai menggila carut marut dunia

Lelang harga diri, lelang akal budi



Kurasa saga tak lagi diatas talam

Merayap lantai dihentak malam

Sekiranya perdebatan tentang apa milik siapa, dimana seharusnya berada

Bukan alasan menghantam tanpa melirik lumrahnya kehidupan

Sesekali candu untuk beralasan dengan logika mulia

Tak sekedar cuap cuap canda nan melaknat persaudaraan



Sentilan bijak bak menderu ditengah nyiur pagi ini

Tunggang hilang tak hilang

Mungkin kelam nan dihimpit kanvas jingga

Bertanya kenapa tak kembali pada peraduan lama

Mendongak berdalih, tak betah dikekang



Langit kadang berucap malang tentang anak manusia

Ingin melipat jarak tentang perbedaan, tetapi menggaduh ego jua

Kau tak perlu menggugat angan nan tak tentu

Baurlah ikatan nan terjaga akan seruan pecinta damai

Kala itu akan bertemu yang namanya riuh tanpa gaduh, malam tanpa kelam



Kerak-kerak hentak kerabat “lama”

Manakala bertemu sepandangpun membuang muka

Dikata saudara, ilalang lebih betah melirik tuk sekedar menyapa



Berapapun lelah nan di umpat usaha

Pinta pada pemilik nama “nan satu”

Ikatlah nan renggang bak langit nan enggan melepas awan

Merebak pertikaian, melapukkan ego

Namun tetap berapi-api pada setiap ikhtiarnya

Payakumbuh, 14 Desember 2017

No comments:

Post a Comment